loading...

Thursday, May 7, 2020

Makalah Pasca Panen


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi ALLAH SWT,Selawat teriring salam kepangkuan nabi besar MUHAMMAD SAW, yang telah memberi kesempatan bagi kita semua untuk beraktifitas dan menuntut ilmu demi kemajuan peradaban umat manusia. Dan juga telah memberi waktu bagi kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.Proses belajar mengajar yang di ikuti adalah rangkaian tatap muka, dan pencaharian berbagai literature bibliografi yang berkaitan dengan mata kuliah yang diberikan dosen disetiap Perguruan Tinggi.

            Selain itu, dosen pengajar juga menyertakan system perkuliahan bagi peserta didik berupa tugas kuliah dengan harapan peserta didik mampu mencerna berbagai problematika yang ada ditengah-tengah masyarakat dengan merangkum hal tersebut dalam bentuk sebuah makalah yang isinya memuat perihal tentang mata perkuliahan yang sedang dipelajari.

            Untuk itu kami menyusun sebuah makalah mengenai ekonomi persaingan pasar dengan harapan mengerti sebaik mungkin tentang persaingan, Harapan saya peribadi makalah ini dapat menjadi asupan ilmu pengetahuan tentang persaingan pasar tersebut Dan juga diharapkan makalah ini dapat menjadi rujukan bagi dosen pengajar mengenai sumber penilaian.

            Namun saya sadari, makalah  ini masih jauh dari standarisasi sebuah makalah perguruan tinggi umumnya baik dari sisi susunan makalah, isi, teori, dan referensi yang kami jadikan sumber penyusunan makalah ini. Untuk itu saya membuka diri menerima Berupa kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah kami pada kesempatan berikutnya.

 

 

 

                                                            Alue Peunyareng, 10 November 2011

 

                                                                                    Penyusun

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR.................................................................................... (i)

DAFTAR ISI................................................................................................. (ii)

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 1

1.1 Latar Belakang............................................................................... 1

1.2 rumusan masalah............................................................................ 1

1.3  tujuan.............................................................................................. 1

 

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................. 2

BAB III PEMBAHASAN.............................................................................. 5       

2.1Ciri-ciri pasar persaingan sempurna................................................. 5

2.2 kebaikan dan keburukan pasar persaingan sempurna.................... 5

2.3 Efisiensi Dalam Persaingan Sempurna............................................ 7

BAB IV PENUTUP....................................................................................... 12

3.1 Kesimpulan..................................................................................... 12

3.2 Saran............................................................................................... 12

3.3 Daftar pustaka................................................................................. 13


BAB I

PENDAHULUAN



Indonesia secara alamiah  adalah negara pertanian dengan budaya pertanian yang kuat. Bertani, beternak,. berburu ikan dilaut adalah keahlian turun-menurun yang sudah mendarah daging. Teknologi dasar ini sudah dikuasai sejak jaman nenek moyang. Karena budaya pertanian telah mendarah daging maka sebagai akibatnya, bahwa dengan usaha yang cukup minimal, sektor pertanian kita sebenarnya dapat dipacu untuk berproduksi sebesar-besarnya.

Gambar 1  Produksi pangan dunia

 

Eropa memiliki seperempat (24%) populasi dunia, tetapi menghasilkan hampir separuh (48%) jumlah total persediaan  makanan, demikian juga Amerika Utara yang hanya memiliki 8% penduduk dunia, tetapi menghasilkan 20% persediaan  makanan dunia. Sebaliknya Timur jauh, termasuk Indonesia yang memiliki 40% penduduk dunia hanya menyediakan 14% persediaan makanan dunia.

 

1.1  Latar Belakang

Indonesia merupakan Negara asia yang berkembang dengan tingkat penduduk prestasi terbanyak maka oleh karena itu perlu adanya teknologi pasca panen multi disiplin, Teknologi pasca panen  multi disiplin adalah, teknologi yang melibatkan pakar-pakar, seperti pakar bahan, manufakturing, teknologi pengolahan pangan, kimia, pengukuran, gizi, agro-kompleks dan lingkungan.

Kelemahan pengembangan teknologi di Indonesia adalah sinergi antar disiplin ilmu yang masih sangat rendah. Sinergi adalah akumulasi usaha difusi dari berbagai ilmu dan teknologi, yang sangat membutuhkan energi, sehingga untuk mendapatkan produk yang canggih, modern dan berkehandalan tinggi perlu langkah dan tahapan sistematik, yang memerlukan dukungan politik dan dana pemerintah dan perguruan tinggi.

Keberpihakan pemerintah terhadap teknologi rakyat perlu ditegaskan, karena kuat sekali indikasi pemerintah yang lebih mengutamakan akumulasi kekuatan ekonomi pemerintah dan sektor swasta dari pada pemberdayaan teknologi produksi rakyat dan penyelesaian pengangguran, yang memang memerlukan usaha sedikit lebih serius dari pemerintah.

 

1.2  tujuan produk pangan

Pada umumnya suatu transaksi jual beli melibatkan produk/barang atau jasa dengan uang sebagai alat transaksi pembayaran yang sah dan disetujui oleh kedua belah pihak yang bertransaksi.disamping itu juga,jadi  tujuan dari nproduk ini untuk mencukupi kebutuhan primer konsumen .

1.3  Manfaat produk pangan

 

Bagian bagian Teknologi pasca panen haruslah dibuktikan oleh UGM pada pemerintah sebagai teknologi pemberdayaan bagi kemampuan produktivitas rakyat, yang bisa mendorong ekspor pertanian  rakyat sebagai sumber devisa negara, dan merupakan salah satu langkah strategis menyelesaikan pengangguran.

 

 

Oleh sebab itu di dalam metodologi pengembangannya perlu diperhatikan strategi implikasi yaitu

·         kebutuhan dana,

·         potensi pertanian rakyat,

·         sustainability,

·          potensi ekspor,

·          potensi penyelesaian pengangguran,

·          keterlibatan sektor swasta dan daya serap teknologi oleh rakyat.

 

 

1.4  ruang lingkup

 

yang termasuk dalam ruang lingkup pasar  itu meliputi metode dan pelaksanaan :

 

v  Metode

Metode pelaksanaan pengembangan teknologi pasca panen adalah sebagai berikut:

a.       pemilihan prioritas: jenis teknologi, skala teknologi

b.      perhitungan dampak terhadap: kebutuhan dana, potensi pertanian rakyat, sustainability, potensi ekspor, potensi penyelesaian pengengguran, keterlibatan sektor swasta dan daya serap teknologi oleh rakyat

c.       penjadwalan pengembangan teknologi

d.      pelaksanaan pengembangan teknologi

e.       Strategi implementasi teknologi.

v  Pelaksanaan

 

Pengembangan teknologi pasca panen ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak.

a.       Pakar perguruan tinggi: sebagai penyedia teknologi & human resources

b.      Mitra industri (mungkin internal UGM): yang akan berpartisipasi dalam program produksi awal hingga produksi massa.

c.       Pemerintah daerah: akan menyediakan daerah sebagai pelaksanaan program implementasi, yang akan masuk dalam scheme anggaran Pemda dalam pelaksanaannya

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

Salah satu masalah produksi tersebut di Indonesia adalah ketidak mampuan kita menyediakan “teknologi pasca panen”, yang mengakibatkan :

1.      Produk pertanian seperti buah-buahan cepat jenuh, sehingga harga mudah jatuh di musim panen, sehingga pengembangan nya secara intensif besar-besaran tidak dimungkinkan.

2.      Bargaining power petani sangat lemah menghadapi tengkulak, sehingga kehidupan, kesejahteraan dan daya beli pada teknologi akan selalu tetap lemah

3.      Kemampuan pengawetan, pengepakan, sehingga bisa menjadikan “produk kualitas ekspor” andalan masih sangat tergantung pada teknologi luar negeri, sehingga ketergantungan terhadap produk, uluran tangan dan teknologi akan terjadi selamanya

4.      Bila Indonesia menguasai, dan mampu mengembangkan teknologi “setara dengan teknologi dunia”, tidak mustahil produk pertanian bisa di maksimalkan menjadi komoditi ekspor andalan Indonesia, sehingga kemajuan teknologi bisa lainnya bisa berlangsung dan maju pesat.

 

Beberapa produk pertanian yang saat ini berhasil berkembang cukup berarti di Indonesia antara lain :

a.       Tepung, beras, ubi kayu, jagung, gandum

b.      Buah-buahan : jeruk, pisang, mangga, dll

c.       Sayur-sayuran: kubis, kentang

d.      Kacang-kacangan: kacang tanah, kedelai

e.       Ikan segar, udang, telur, susu, dairy produk

f.       Daging ayam, sapi, kerbau

g.      Makanan jadi, minuman

h.      Ternak, hasil peternakan, makanan ternak

 

Teknologi pasca panen untuk produk-produk di atas memang sebagian sudah tersedia di Indonesia, akan tetapi penguasaan pakar Indonesia terhadap manufaktur, riset dan pengembangan teknologi ini masih sangat lemah. Oleh sebab itu sulit bagi teknologi ini di Indonesia untuk bisa menjadi “tulang punggung” produk-produk pertanian, sehingga menjadi komoditi ekspor unggulan Indonesia.


 

BAB III

PEMBAHASAN

 

2.1 Pentingnya Penyiapan Produk Untuk Pasar

      Definisi pasar secara luas menurut W.J. Stanton adalah orang-orang yang mempunyai keinginan untuk memenuhi kebutuhan, uang untuk belanja serta kemauan untuk membelanjakannya.jadi tujuan adanya pasar ialah sebagai tempat pengumpulan berbagai macam produk pangan,oleh karena itu penyiapan produk pangan untuk pasar harus dilakukan guna untuk memenuhi keperluan

Pemahaman variasi kebutuhan dan keinginan konsumen menjadi pedoman dalam kepentingan merancang strategi pemasaran.Konsumen memiliki preferensi sekaligus urutan tertinggi produk itu sendiri.dan tak dapat dihindari modus tindakan pembelian mereka ialah mencapai kepuasan dimana permintaan bervariasi sesuai dengan cara produk digunakan,serta pola konsumsi.Variasi-variasi demikian mendorong pembagian atau segmentasi pasar. segmentasi pasar merujuk pada proses pembagian pasar.

Disamping itu juga penyiapan produk untuk pasar ini,tidak lepas dari berbagai kebutuhan para konsumen apa bila terjadi kelangkaan pangan .

 

2.2 Teknik Panen

Teknik pemanenan pada produk pangan biasa dilakukan dengan berbagai  metode berdasarkan  jenis bahan pangannya salah satu sample yang bisa kita bahas ialah pada teknik pemanenan tanaman cabai.

Panen cabai  sangat dipengaruhi oleh faktor jenis atau varietasnya, dan lingkungan tempat tanam. Di dataran rendah, umumnya cabai mulai dipanen pada umur 75-80 hari setelah tanam. Panen berikutnya dilakukan selang 2-3 hari sekali. Sedangkan di dataran tinggi (pegunungan), panen perdana dapat dimulai pada umur 90-100 hari setelah tanam. Selanjutnya pemetikan buah dilakukan selang 6-10 hari sekali. Khusus untuk sasaran ekspor, panen cabai dipilih pada tingkat kemasakan 85% - 90% saat warna buah merah-kehitaman. Di dataran rendah, panen cabai untuk tujuan ekspor dapat diatur 2 hari sekali ; sedangkan di dataran tinggi antara 4-6 hari sekali. Pada cabai paprika, persyaratan layak panen adalah bila buahnya telah mencapai ukuran maksimal, hampir matang tetapi warnanya masih hijau. Buah cabai paprika yang dipanen terlalu muda bobotnya akan menurun secara drastis dan kurang tahan angkut (cepat rusak). Sebaliknya, buah cabai paprika yang dipanen terlalu matang atau warnanya sudah merah, maka kualitasnya kurang disukai pasar (konsumen). Kecuali beberapa varietas cabai paprika memang khusus untuk dipanen buah merah ataupun buah kuning.

Cara panen cabai hibrida adalah memetik buah bersama tangkainya secara hati-hati di saat cuaca terang. Hasil panen dimasukkan ke dalam wadah, kemudian dikumpulkan di tempat penampungan. Pada pertanaman yang baik, dapat menghasilkan produksi antara 20-40 ton/ha. Khusus cabai paprika minimal dapat menghasilkan 5-10 ton/hektar, harga jualnya lebih mahal dibanding dengan jenis-jenis cabai lainnya.

Cabai Kering

Pemasaran cabai kering memiliki beberapa keuntungan, diantaranya memudahkan pengangkutan, produk-nya dapat dikemas secara ringkas dan tahan lama.

·                     Pembersihan

·                     Buah-buah cabai dipilih yang sudah matang (berwarna merah), kemudian dicuci bersih dan tangkainya dibuang.

·                     Pembelahan

·                     Setelah buah cabai ditiriskan, segera dibelah dan dibuang biji-bijinya.

·                     Perendaman sesaat dalam air hangat (blanching)

·                     Buah-buah cabai segar segera dicelupkan ke dalam air mendidih yang telah dicampur Kalium Metabisulfit 0,2%. Lama perendaman + 6 menit, kemudian disusul pencelupan ke dalam air dingin. Tujuan blanching adalah untuk menambah ketahanan warna buah sehingga tidak cepat berubah terjadi coklat (browning).

·                     Pengeringan

·                     Pengeringan cabai dapat dilakukan secara alami (sinar matahari) selama 7-10 hari, ataupun dengan alat mekanis yang bersuhu 600 C sehingga dapat kering selama 12-20 jam. Pengeringan dengan alat mekanis memiliki beberapa keuntungan, antara lain waktunya relatif singkat, bersih, dan kadar air dapat seminim mungkin + 10%.

·                     Penyimpanan

Cabai kering dapat dikemas dalam kantong ataupun karung plastik tertutup rapat. Tempat penyimpanannya yang baik adalah ruangan kering dengan kelembaban 70%.

 

2.3 Ragam Kemasan


kemasan  minuman. Banyak sekali ragamnya, ada minuman sari buah, jelly drink, nata de coco, soft drink, juice, susu kedelai de el el, dan banyak  ragam lain nya

·         kemasan botol,

·         gelas plastic,dan

·         cup plastic.

 

2.4 Transfer Kerumah Pengemas

Bahan Pangan Yang Sudah Dipanen, Dibawa Kerumah Pengemas Dengan Menggunakan Gerobak Angkut Atau Truk Bak Terbuka,Guna Menghindari kerusakan produk pada saat pentransferan biasanya produk pangan itu dilapisi dengan kertas atau sejenisnya agar tidak mengalami gesekan.

2.5 Sortasi dan Pembersihan Pasca Panen sample pada  Cabai Hibrida

Cabai Segar

·         Pemilihan buah (seleksi dan sortasi)

·         Di tempat penampungan, buah-buah cabai dipilih berdasarkan warna merah, masih

kehitaman; dan juga dipisahkan antara buah sehat dengan buah sakit atau rusak (busuk).

Pengkelasan (klasifikasi)

·         Khusus untuk diekspor dilakukan pengkelasan, yaitu dipilih buah-buah cabai yang panjangnya minimal 11 cm, bentuk buah lurus, dan tidak terlalu matang.

Pewadahan (pengemasan)

·         Untuk sasaran pasar lokal, pewadahan cabai dapat dilakukan dalam karung plastik yang tembus udara ataupun keranjang bambu.

·         Untuk sasaran pasar ekspor, buah-buah cabai ditata rapi dalam kardus-kardus ukuran 30 x 40 x 50 cm berisi + 20 kg, dan berventilasi atau dibuatkan lubang-lubang kecil.

Penyimpanan

·         Penyimpanan sementara sebelum dipasarkan, sebaiknya di tempat (ruang) yang teduh dan cukup lembab, serta sirkulasi udara baik.

·         Bila fasilitas penyimpanan memungkinkan, dapat dilakukan dalam ruang dingin (cold storage) yang suhunya rendah antara 2-15 derajat Celcius dan kelembabannya tinggi sekitar 90%-95% agar tetap segar selama + 20 hari.

 

           

2.6 Pengemasan          

            Pengemasan merupakan sistem yang terkoordinasi untuk menyiapkan barang menjadi siap untuk ditransportasikan, didistribusikan, disimpan, dijual, dan dipakai. Adanya wadah atau pembungkus dapat membantu mencegah atau mengurangi kerusakan, melindungi produk yang ada di dalamnya, melindungi dari bahaya pencemaran serta gangguan fisik (gesekan, benturan, getaran). Di samping itu pengemasan berfungsi untuk menempatkan suatu hasil pengolahan atau produk industri agar mempunyai bentuk-bentuk yang memudahkan dalam penyimpanan, pengangkutan dan distribusi. Dari segi promosi wadah atau pembungkus berfungsi sebagai perangsang atau daya tarik pembeli. Karena itu bentuk, warna dan dekorasi dari kemasan perlu diperhatikan dalam perencanaannya.

Sistem penyimpanan bahan makanan secara tradisional diawali dengan memasukkan bahan makanan ke dalam suatu wadah  yang ditemuinya. Dalam perkembangannya di bidang pascapanen,Sederhananya, untuk mengemas sari buah dalam kemasan gelas atau cup, harus menggunakan jenis gelas/cup yang tahan panas, ini karena produk-produk tersebut harus dimasukan kemasan dalam kondisi panas (hot filling), belum lagi di bagian proses akhir juga ada sterilisasi panas yang membutuhkan ketahanan bahan kemasan terhadap suhu tinggi. Jenis bahan plastik yang tahan panas dan aman untuk mengemas minuman seperti ini disebut jenis plastik PP (Poly Propelen).

Berbagai macam proses pengemasan itu banyak dilakukan salah satunya ialah cutting (pemotongan wadah kemasan)

Proses cutting atau pemotongan bahan baku kaleng dapat diistilahkan juga dengan proses sliting, karena menggunakan mesin potong yang disebut Sliter. Proses ini dilakukan untuk mendapatkan ukuran bahan body maupun komponen sesuai standar Unit Size masing-masing.

Berdasarkan proses kerjanya, mesin cutting yang ada dikatagorikan menjadi 3 jenis, yaitu  :

1.   Manual slitting  :

Adalah jenis slitting yang pengoperasianya menggunakan tenaga manusia yang sekaligus sebagai operator cutting dimana pisau potong langsung dikenakan pada bahan menggunakan tangan atau kaki, sehingga jenis pemotongan seperti ini dibagi menjadi 2, yaitu :

  1. Gunting pancal (kaki)
  2. Gunting rajang (tangan)

2.   Semi automatic slitting :

Adalah jenis mesin slitting yang pengoperasianya sudah menggunakan sistem automatis tetapi belum secara langsung melakukan proses potong 2 sisi, yaitu untuk ukuran tinggi (US Width) dan panjang (US length). Jadi masih memerlukan pengoperasian manual dalam hal penggantian posisi cutting dari potong diamameter ke potong tinggi.

3.  Automatic slitting :

Adalah jenis mesin slitting yang pengoperasiannya menggunakan sistem automatis dan sudah lengkap melakukan dua proses cutting secara langsung atau bersambung tetapi input bahan dan output produk masih ditangani secara manual

1. Fully Automatic Slitting Machine

Adalah jenis mesin sliting yang pengoperasikan menggunakan sistem automatis secara penuh meliputi rangkaian input bahan, proses potong sampai packing/palletizing output produknya. Adapun penambahan bagian mesin yang utama pada jenis fully automatic ini antara lain :

-          Rail feeder

-          Feeder

-          Suction cup unit

-          Sensor Double sheet

-          Palletizer

Cara-cara pengemasan sangat erat berhubungan dengan kondisi komoditas atau produk yang dikemas serta cara transportasinya. Pada prinsipnya pengemas harus memberikan suatu kondisi yang sesuai dan berperan sebagai pelindung bagi kemungkinan perubahan keadaan yang dapat memengaruhi kualitas isi kemasan maupun bahan kemasan itu sendiri. Kemasan dapat digolongkan berdasarkan beberapa hal antara lain:

1. Frekuensi Pemakaian

  • Kemasan yang Dapat Dipakai Berulang Kali (Multi Trip), seperti beberapa jenis botol minuman (limun, bir) dan botol kecap. Wadah-wadah tersebut umumnya tidak dibuang oleh konsumen, akan tetapi dikembalikan lagi pada agen penjual untuk kemudian dimanfaatkan ulang oleh pabrik.
  • Kemasan yang Tidak Dibuang (Semi Disposable). Wadah-wadah ini biasanya digunakan untuk kepentingan lain di rumah konsumen setelah dipakai, misalnya kaleng biskuit, kaleng susu, dan berbagai jenis botol. Wadah-wadah tersebut digunakan untuk penyimpanan bumbu, kopi, gula, dan sebagainya.


2. Struktur Sistem Kemas Berdasarkan letak atau kedudukan suatu bahan kemas di dalam sistem kemasan keseluruhan dapat dibedakan atas :

  • Kemasan Primer, yaitu bahan kemas langsung mewadahi bahan pangan (kaleng susu, botol minuman, bungkus tempe)
  • Kemasan Sekunder, yaitu kemasan yang fungsi utamanya melindungi kelompok kemasan lainnya, seperti misalnya kotak karton untuk wadah kaleng susu, kotak kayu untuk wadah buah-buahan yang dibungkus, keranjang tempe, dan sebagainya.
  • Kemasan Tersier dan Kuartener, yaitu apabila masih diperlukan lagi pengemasan setelah kemasan primer, sekunder dan tersier. Umumnya digunakan sebagai pelindung selama pengangkutan.


3. Sifat Kekakuan Bahan Kemas

  • Kemasan fleksibel, yaitu bila bahan kemas mudah dilenturkan, misalnya plastik, kertas, foil.
  • Kemasan kaku, yaitu bila bahan kemas bersifat keras, kaku, tidak tahan lenturan, patah bila dipaksa dibengkokkan. Misalnya kayu, gelas, dan logam.
  • Kemasan semi kaku/semi fleksibel, yaitu bahan kemas yang memiliki sifat-sifat antara kemasan fleksibel dan kemasan kaku, seperti botol plastik (susu, kecap, saus) dan wadah bahan yang berbentuk pasta.


4. Sifat Perlindungan Terhadap Lingkungan

  • Kemasan Hermetis, yaitu wadah yang secara sempurna tidak dapat dilalui oleh gas, misalnya kaleng dan botol gelas.
  • Kemasan Tahan Cahaya, yaitu wadah yang tidak bersifat transparan, misalnya kemasan logam, kertas dan foil. Kemasan ini cocok untuk bahan pangan yang mengandung lemak dan vitamin yang tinggi, serta makanan yang difermentasi.


5. Tingkat Kesiapan pakai

  • Wadah Siap Pakai, yaitu bahan kemas yang siap untuk diisi dengan bentuk yang telah sempurna sejak keluar dari pabrik. Contohnya adalah wadah botol, wadah kaleng, dan sebagainya.
  • Wadah Siap Dirakit atau disebut juga wadah lipatan, yaitu kemasan yang masih memerlukan tahap perakitan sebelum pengisian, misalnya kaleng dalam bentuk lempengan dan silinder fleksibel, wadah yang terbuat dari kertas, foil atau plastik

 

  

BAB IV

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

            Dari definisi diatas bahwasanya dapat dsimpulkan :

1.      Pasar merupakan wilayah utama untuk memproduksi bahan pangan

2.      Pengemasan  merupakan sistem yang terkoordinasi untuk menyiapkan barang menjadi siap untuk ditransportasikan, didistribusikan, disimpan, dijual, dan dipakai. Adanya wadah atau pembungkus dapat membantu mencegah,memperlambat atau mengurangi kerusakan, melindungi produk yang ada di dalamnya,

3.      kemasan botol dan cup plastik saat ini sangat banyak digunakan untuk minuman. Banyak sekali ragamnya, ada minuman sari buah, jelly drink, nata de coco, soft drink, juice, susu kedelai dll.

 

3.2 Saran

            Kritikan dari dosen sangat dibutuhkan, agar mencapai titik masksimal dalam penyusunan dan pembuatan makalah,serta isi yang dipaparkan”


3.3  Daftar Pustaka

Http//www.google search.com, 5 November 2011

http://www.juicetrue.blogspot.com 5 November 2011

Soepomo s,1985 : kamus sains ilmu pengetahuan alam,Jakarta 2004,balai pustaka

Drs.kardiman dkk,2005 :Ekonomi,dunia keseharian kita,untuk sma kelas I SMP , 2005, yudhistira.

 

 

 


No comments:

Post a Comment

Proposal MAJLIS TA"LIM

Project Proposal PERMOHONAN BANTUAN RUTINITAS PELAKSANAAN KEGIATAN MAJLIS TA’LIM                   LOGO       ...