KATA PENGANTAR
Segala puji bagi ALLAH
SWT,Selawat teriring salam kepangkuan nabi besar MUHAMMAD SAW, yang telah
memberi kesempatan bagi kita semua untuk beraktifitas dan menuntut ilmu demi
kemajuan peradaban umat manusia. Dan juga telah memberi waktu bagi kami
sehingga dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.Proses belajar
mengajar yang di ikuti adalah rangkaian tatap muka, dan pencaharian berbagai
literature bibliografi yang berkaitan dengan mata kuliah yang diberikan dosen
disetiap Perguruan Tinggi.
Selain itu, dosen pengajar juga menyertakan system
perkuliahan bagi peserta didik berupa tugas kuliah dengan harapan peserta didik
mampu mencerna berbagai problematika yang ada ditengah-tengah masyarakat dengan
merangkum hal tersebut dalam bentuk sebuah makalah yang isinya memuat perihal
tentang mata perkuliahan yang sedang dipelajari.
Untuk itu kami menyusun sebuah makalah mengenai ekonomi
persaingan pasar dengan harapan mengerti sebaik mungkin tentang persaingan,
Harapan saya peribadi makalah ini dapat menjadi asupan ilmu pengetahuan tentang
persaingan pasar tersebut Dan juga diharapkan makalah ini dapat menjadi rujukan
bagi dosen pengajar mengenai sumber penilaian.
Namun saya sadari, makalah ini masih jauh dari standarisasi sebuah
makalah perguruan tinggi umumnya baik dari sisi susunan makalah, isi, teori,
dan referensi yang kami jadikan sumber penyusunan makalah ini. Untuk itu saya
membuka diri menerima Berupa kritik dan saran yang sifatnya membangun demi
kesempurnaan makalah kami pada kesempatan berikutnya.
Alue
Peunyareng, 10 November 2011
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................... (i)
DAFTAR ISI................................................................................................. (ii)
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................
1
1.1 Latar Belakang...............................................................................
1
1.2 rumusan masalah............................................................................
1
1.3 tujuan.............................................................................................. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................
2
BAB III PEMBAHASAN.............................................................................. 5
2.1Ciri-ciri pasar persaingan sempurna................................................. 5
2.2 kebaikan
dan keburukan pasar persaingan sempurna....................
5
2.3 Efisiensi
Dalam Persaingan Sempurna............................................ 7
BAB IV PENUTUP....................................................................................... 12
3.1 Kesimpulan..................................................................................... 12
3.2 Saran............................................................................................... 12
3.3 Daftar pustaka................................................................................. 13
BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia secara alamiah adalah
negara pertanian dengan budaya pertanian yang kuat. Bertani, beternak,. berburu
ikan dilaut adalah keahlian turun-menurun yang sudah mendarah daging. Teknologi
dasar ini sudah dikuasai sejak jaman nenek moyang. Karena budaya pertanian
telah mendarah daging maka sebagai akibatnya, bahwa dengan usaha yang cukup
minimal, sektor pertanian kita sebenarnya dapat dipacu untuk berproduksi
sebesar-besarnya.
Gambar 1 Produksi pangan dunia
Eropa memiliki seperempat (24%) populasi dunia, tetapi
menghasilkan hampir separuh (48%) jumlah total persediaan makanan, demikian juga Amerika Utara yang
hanya memiliki 8% penduduk dunia, tetapi menghasilkan 20% persediaan makanan dunia. Sebaliknya Timur jauh, termasuk
Indonesia yang memiliki 40% penduduk dunia hanya menyediakan 14% persediaan
makanan dunia.
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan
Negara asia yang berkembang dengan tingkat penduduk prestasi terbanyak maka
oleh karena itu perlu adanya teknologi pasca panen multi disiplin, Teknologi
pasca panen multi disiplin adalah,
teknologi yang melibatkan pakar-pakar, seperti pakar bahan, manufakturing,
teknologi pengolahan pangan, kimia, pengukuran, gizi, agro-kompleks dan
lingkungan.
Kelemahan
pengembangan teknologi di Indonesia adalah sinergi antar disiplin ilmu yang
masih sangat rendah. Sinergi adalah akumulasi usaha difusi dari berbagai ilmu
dan teknologi, yang sangat membutuhkan energi, sehingga untuk mendapatkan
produk yang canggih, modern dan berkehandalan tinggi perlu langkah dan tahapan
sistematik, yang memerlukan dukungan politik dan dana pemerintah dan perguruan
tinggi.
Keberpihakan
pemerintah terhadap teknologi rakyat perlu ditegaskan, karena kuat sekali
indikasi pemerintah yang lebih mengutamakan akumulasi kekuatan ekonomi
pemerintah dan sektor swasta dari pada pemberdayaan teknologi produksi rakyat
dan penyelesaian pengangguran, yang memang memerlukan usaha sedikit lebih
serius dari pemerintah.
1.2 tujuan
produk pangan
Pada umumnya
suatu transaksi jual beli melibatkan produk/barang atau jasa dengan uang
sebagai alat transaksi pembayaran yang sah dan disetujui oleh kedua belah pihak
yang bertransaksi.disamping itu juga,jadi tujuan dari nproduk ini untuk mencukupi kebutuhan
primer konsumen .
1.3 Manfaat
produk pangan
Bagian bagian
Teknologi pasca panen haruslah dibuktikan oleh UGM pada pemerintah sebagai
teknologi pemberdayaan bagi kemampuan produktivitas rakyat, yang bisa mendorong
ekspor pertanian rakyat sebagai sumber
devisa negara, dan merupakan salah satu langkah strategis menyelesaikan
pengangguran.
Oleh sebab itu di
dalam metodologi pengembangannya perlu diperhatikan strategi implikasi yaitu
·
kebutuhan
dana,
·
potensi
pertanian rakyat,
·
sustainability,
·
potensi ekspor,
·
potensi penyelesaian pengangguran,
·
keterlibatan sektor swasta dan daya serap
teknologi oleh rakyat.
1.4
ruang lingkup
yang termasuk dalam ruang lingkup pasar itu meliputi metode dan pelaksanaan :
v Metode
Metode pelaksanaan pengembangan
teknologi pasca panen adalah sebagai berikut:
a.
pemilihan prioritas: jenis teknologi, skala teknologi
b.
perhitungan dampak terhadap: kebutuhan dana, potensi
pertanian rakyat, sustainability, potensi ekspor, potensi penyelesaian
pengengguran, keterlibatan sektor swasta dan daya serap teknologi oleh rakyat
c.
penjadwalan pengembangan teknologi
d.
pelaksanaan pengembangan teknologi
e.
Strategi implementasi teknologi.
v Pelaksanaan
Pengembangan
teknologi pasca panen ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak.
a.
Pakar perguruan tinggi: sebagai penyedia teknologi
& human resources
b.
Mitra industri (mungkin internal UGM): yang akan
berpartisipasi dalam program produksi awal hingga produksi
c.
Pemerintah daerah: akan menyediakan daerah sebagai
pelaksanaan program implementasi, yang akan masuk dalam scheme anggaran Pemda
dalam pelaksanaannya
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Salah satu
masalah produksi tersebut di Indonesia adalah ketidak mampuan kita menyediakan
“teknologi pasca panen”, yang mengakibatkan :
1.
Produk pertanian seperti buah-buahan cepat jenuh, sehingga
harga mudah jatuh di musim panen, sehingga pengembangan nya secara intensif
besar-besaran tidak dimungkinkan.
2.
Bargaining power petani sangat lemah menghadapi
tengkulak, sehingga kehidupan, kesejahteraan dan “daya beli pada teknologi”
akan selalu tetap lemah
3.
Kemampuan pengawetan, pengepakan, sehingga bisa
menjadikan “produk kualitas ekspor” andalan masih sangat tergantung pada
teknologi luar negeri, sehingga ketergantungan terhadap produk, uluran tangan
dan teknologi akan terjadi selamanya
4.
Bila Indonesia menguasai, dan mampu mengembangkan
teknologi “setara dengan teknologi dunia”, tidak mustahil produk
pertanian bisa di maksimalkan menjadi komoditi ekspor andalan Indonesia,
sehingga kemajuan teknologi bisa lainnya bisa berlangsung dan maju pesat.
Beberapa
produk pertanian yang saat ini berhasil berkembang cukup berarti di Indonesia
antara lain :
a.
Tepung, beras, ubi kayu, jagung, gandum
b.
Buah-buahan :
jeruk, pisang, mangga, dll
c.
Sayur-sayuran: kubis, kentang
d.
Kacang-kacangan: kacang tanah, kedelai
e.
Ikan segar, udang, telur, susu, dairy produk
f.
Daging ayam, sapi, kerbau
g.
Makanan jadi, minuman
h.
Ternak, hasil peternakan, makanan ternak
Teknologi pasca panen untuk
produk-produk di atas memang sebagian sudah tersedia di Indonesia, akan tetapi
penguasaan pakar Indonesia terhadap manufaktur, riset dan pengembangan
teknologi ini masih sangat lemah. Oleh sebab itu sulit bagi teknologi ini di
Indonesia untuk bisa menjadi “tulang punggung” produk-produk pertanian,
sehingga menjadi komoditi ekspor unggulan Indonesia.
BAB III
PEMBAHASAN
2.1 Pentingnya Penyiapan
Produk Untuk Pasar
Definisi
pasar secara luas menurut W.J. Stanton adalah orang-orang yang mempunyai
keinginan untuk memenuhi kebutuhan, uang untuk belanja serta kemauan untuk
membelanjakannya.jadi tujuan adanya pasar ialah sebagai tempat pengumpulan
berbagai macam produk pangan,oleh karena itu penyiapan produk pangan untuk
pasar harus dilakukan guna untuk memenuhi keperluan
Pemahaman variasi kebutuhan dan
keinginan konsumen menjadi pedoman dalam kepentingan merancang strategi
pemasaran.Konsumen memiliki preferensi sekaligus urutan tertinggi produk itu
sendiri.dan tak dapat dihindari modus tindakan pembelian mereka ialah mencapai
kepuasan dimana permintaan bervariasi sesuai dengan cara produk digunakan,serta
pola konsumsi.Variasi-variasi demikian mendorong pembagian atau segmentasi
pasar. segmentasi pasar merujuk pada proses pembagian pasar.
Disamping itu
juga penyiapan produk untuk pasar ini,tidak lepas dari berbagai kebutuhan para
konsumen apa bila terjadi kelangkaan pangan .
2.2 Teknik Panen
Teknik pemanenan pada produk
pangan biasa dilakukan dengan berbagai
metode berdasarkan jenis bahan
pangannya salah satu sample yang bisa kita bahas ialah pada teknik pemanenan
tanaman cabai.
Panen cabai sangat dipengaruhi
oleh faktor jenis atau varietasnya, dan lingkungan tempat tanam. Di dataran
rendah, umumnya cabai mulai dipanen pada umur 75-80 hari setelah tanam. Panen
berikutnya dilakukan selang 2-3 hari sekali. Sedangkan di dataran tinggi
(pegunungan), panen perdana dapat dimulai pada umur 90-100 hari setelah tanam.
Selanjutnya pemetikan buah dilakukan selang 6-10 hari sekali. Khusus untuk
sasaran ekspor, panen cabai dipilih pada tingkat kemasakan 85% - 90% saat warna
buah merah-kehitaman. Di dataran rendah, panen cabai untuk tujuan ekspor dapat
diatur 2 hari sekali ; sedangkan di dataran tinggi antara 4-6 hari sekali. Pada
cabai paprika, persyaratan layak panen adalah bila buahnya telah mencapai
ukuran maksimal, hampir matang tetapi warnanya masih hijau. Buah cabai paprika
yang dipanen terlalu muda bobotnya akan menurun secara drastis dan kurang tahan
angkut (cepat rusak). Sebaliknya, buah cabai paprika yang dipanen terlalu
matang atau warnanya sudah merah, maka kualitasnya kurang disukai pasar (konsumen).
Kecuali beberapa varietas cabai paprika memang khusus untuk dipanen buah merah
ataupun buah kuning.
Cara panen cabai hibrida adalah memetik buah bersama tangkainya secara
hati-hati di saat cuaca terang. Hasil panen dimasukkan ke dalam wadah, kemudian
dikumpulkan di tempat penampungan. Pada pertanaman yang baik, dapat
menghasilkan produksi antara 20-40 ton/ha. Khusus cabai paprika minimal dapat
menghasilkan 5-10 ton/hektar, harga jualnya lebih mahal dibanding dengan
jenis-jenis cabai lainnya.
Cabai Kering
Pemasaran cabai kering memiliki beberapa keuntungan, diantaranya
memudahkan pengangkutan, produk-nya dapat dikemas secara ringkas dan tahan
lama.
·
Pembersihan
·
Buah-buah
cabai dipilih yang sudah matang (berwarna merah), kemudian dicuci bersih dan
tangkainya dibuang.
·
Pembelahan
·
Setelah
buah cabai ditiriskan, segera dibelah dan dibuang biji-bijinya.
·
Perendaman sesaat dalam air hangat (blanching)
·
Buah-buah
cabai segar segera dicelupkan ke dalam air mendidih yang telah dicampur Kalium
Metabisulfit 0,2%. Lama perendaman + 6 menit, kemudian disusul
pencelupan ke dalam air dingin. Tujuan blanching adalah untuk menambah
ketahanan warna buah sehingga tidak cepat berubah terjadi coklat (browning).
·
Pengeringan
·
Pengeringan
cabai dapat dilakukan secara alami (sinar matahari) selama 7-10 hari, ataupun
dengan alat mekanis yang bersuhu 600 C sehingga dapat kering selama
12-20 jam. Pengeringan dengan alat mekanis memiliki beberapa keuntungan, antara
lain waktunya relatif singkat, bersih, dan kadar air dapat seminim mungkin +
10%.
·
Penyimpanan
Cabai kering dapat dikemas dalam kantong ataupun karung plastik tertutup
rapat. Tempat penyimpanannya yang baik adalah ruangan kering dengan kelembaban
70%.
2.3 Ragam Kemasan
kemasan minuman. Banyak sekali ragamnya, ada minuman
sari buah, jelly drink, nata de coco, soft drink, juice, susu kedelai de el el,
dan banyak ragam lain nya
·
kemasan botol,
·
gelas plastic,dan
·
cup plastic.
2.4 Transfer Kerumah Pengemas
Bahan Pangan Yang Sudah
Dipanen, Dibawa Kerumah Pengemas Dengan Menggunakan Gerobak Angkut Atau Truk
Bak Terbuka,Guna Menghindari kerusakan produk pada saat pentransferan biasanya
produk pangan itu dilapisi dengan kertas atau sejenisnya agar tidak mengalami
gesekan.
2.5 Sortasi dan Pembersihan Pasca Panen sample pada Cabai
Hibrida
Cabai Segar
·
Pemilihan buah (seleksi dan sortasi)
·
Di
tempat penampungan, buah-buah cabai dipilih berdasarkan warna merah, masih
kehitaman; dan juga dipisahkan antara buah sehat dengan buah sakit atau
rusak (busuk).
Pengkelasan (klasifikasi)
·
Khusus
untuk diekspor dilakukan pengkelasan, yaitu dipilih buah-buah cabai yang
panjangnya minimal 11 cm, bentuk buah lurus, dan tidak terlalu matang.
Pewadahan (pengemasan)
·
Untuk
sasaran pasar lokal, pewadahan cabai dapat dilakukan dalam karung plastik yang
tembus udara ataupun keranjang bambu.
·
Untuk
sasaran pasar ekspor, buah-buah cabai ditata rapi dalam kardus-kardus ukuran 30
x 40 x 50 cm berisi + 20 kg, dan berventilasi atau dibuatkan
lubang-lubang kecil.
Penyimpanan
·
Penyimpanan
sementara sebelum dipasarkan, sebaiknya di tempat (ruang) yang teduh dan cukup
lembab, serta sirkulasi udara baik.
·
Bila
fasilitas penyimpanan memungkinkan, dapat dilakukan dalam ruang dingin (cold
storage) yang suhunya rendah antara 2-15 derajat Celcius dan kelembabannya
tinggi sekitar 90%-95% agar tetap segar selama + 20 hari.
2.6 Pengemasan
Pengemasan merupakan sistem yang
terkoordinasi untuk menyiapkan barang menjadi siap untuk ditransportasikan,
didistribusikan,
disimpan, dijual, dan dipakai. Adanya wadah atau pembungkus dapat membantu
mencegah atau mengurangi kerusakan, melindungi produk yang ada di
dalamnya, melindungi dari bahaya pencemaran serta gangguan fisik (gesekan,
benturan, getaran).
Di samping itu pengemasan berfungsi untuk menempatkan suatu hasil pengolahan atau produk industri agar
mempunyai bentuk-bentuk yang memudahkan dalam penyimpanan, pengangkutan dan distribusi.
Dari segi promosi wadah atau pembungkus berfungsi sebagai perangsang atau daya
tarik pembeli. Karena itu bentuk, warna dan dekorasi dari kemasan perlu
diperhatikan dalam perencanaannya.
Sistem
penyimpanan bahan makanan secara tradisional diawali dengan memasukkan bahan
makanan ke dalam suatu wadah yang
ditemuinya. Dalam perkembangannya di bidang pascapanen,Sederhananya, untuk
mengemas sari buah dalam kemasan gelas atau cup, harus menggunakan jenis
gelas/cup yang tahan panas, ini karena produk-produk tersebut harus dimasukan
kemasan dalam kondisi panas (hot filling), belum lagi di bagian
proses akhir juga ada sterilisasi panas yang membutuhkan ketahanan bahan
kemasan terhadap suhu tinggi. Jenis bahan plastik yang tahan panas dan aman
untuk mengemas minuman seperti ini disebut jenis plastik PP (Poly Propelen).
Berbagai macam
proses pengemasan itu banyak dilakukan salah satunya ialah cutting (pemotongan
wadah kemasan)
Proses cutting
atau pemotongan bahan baku kaleng dapat diistilahkan juga dengan proses
sliting, karena menggunakan mesin potong yang disebut Sliter. Proses ini
dilakukan untuk mendapatkan ukuran bahan body maupun komponen sesuai standar
Unit Size masing-masing.
Berdasarkan proses kerjanya,
mesin cutting yang ada dikatagorikan menjadi 3 jenis, yaitu :
1. Manual
slitting :
Adalah jenis slitting yang
pengoperasianya menggunakan tenaga manusia yang sekaligus sebagai operator
cutting dimana pisau potong langsung dikenakan pada bahan menggunakan tangan
atau kaki, sehingga jenis pemotongan seperti ini dibagi menjadi 2, yaitu :
- Gunting pancal
(kaki)
- Gunting rajang
(tangan)
2. Semi
automatic slitting :
Adalah jenis mesin slitting yang
pengoperasianya sudah menggunakan sistem automatis tetapi belum secara langsung
melakukan proses potong 2 sisi, yaitu untuk ukuran tinggi (US Width) dan
panjang (US length). Jadi masih memerlukan pengoperasian manual dalam hal
penggantian posisi cutting dari potong diamameter ke potong tinggi.
3. Automatic
slitting :
Adalah jenis mesin slitting yang
pengoperasiannya menggunakan sistem automatis dan sudah lengkap melakukan dua
proses cutting secara langsung atau bersambung tetapi input bahan dan output
produk masih ditangani secara manual
1. Fully Automatic Slitting Machine
Adalah jenis mesin sliting yang
pengoperasikan menggunakan sistem automatis secara penuh meliputi rangkaian
input bahan, proses potong sampai packing/palletizing output produknya. Adapun
penambahan bagian mesin yang utama pada jenis fully automatic ini antara lain :
-
Rail feeder
-
Feeder
-
Suction cup unit
-
Sensor Double sheet
-
Palletizer
Cara-cara
pengemasan sangat erat berhubungan dengan kondisi komoditas atau produk yang
dikemas serta cara transportasinya. Pada prinsipnya pengemas harus memberikan
suatu kondisi yang sesuai dan berperan sebagai pelindung bagi kemungkinan
perubahan keadaan yang dapat memengaruhi kualitas isi kemasan maupun bahan
kemasan itu sendiri. Kemasan dapat digolongkan berdasarkan beberapa hal antara
lain:
1. Frekuensi Pemakaian
- Kemasan Sekali
Pakai (Disposable), yaitu kemasan yang langsung dibuang setelah
satu kali pakai. Contohnya bungkus plastik es, bungkus permen, bungkus daun, karton dus, makanan kaleng.
- Kemasan yang
Dapat Dipakai Berulang Kali (Multi Trip), seperti beberapa jenis botol minuman (limun, bir) dan botol kecap. Wadah-wadah tersebut umumnya
tidak dibuang oleh konsumen, akan tetapi dikembalikan lagi pada agen
penjual untuk kemudian dimanfaatkan ulang oleh pabrik.
- Kemasan yang
Tidak Dibuang (Semi Disposable). Wadah-wadah ini biasanya digunakan
untuk kepentingan lain di rumah konsumen setelah dipakai, misalnya kaleng biskuit, kaleng susu, dan berbagai jenis botol.
Wadah-wadah tersebut digunakan untuk penyimpanan bumbu, kopi, gula, dan sebagainya.
2. Struktur Sistem Kemas Berdasarkan letak atau kedudukan suatu bahan kemas di
dalam sistem kemasan keseluruhan dapat dibedakan atas :
- Kemasan Primer,
yaitu bahan kemas langsung mewadahi bahan pangan (kaleng susu, botol minuman, bungkus tempe)
- Kemasan
Sekunder, yaitu kemasan yang fungsi utamanya melindungi kelompok kemasan
lainnya, seperti misalnya kotak karton untuk wadah kaleng susu, kotak kayu untuk wadah buah-buahan yang dibungkus, keranjang tempe, dan sebagainya.
- Kemasan Tersier
dan Kuartener, yaitu apabila masih diperlukan lagi pengemasan setelah
kemasan primer, sekunder dan tersier. Umumnya digunakan sebagai pelindung
selama pengangkutan.
3. Sifat Kekakuan Bahan Kemas
- Kemasan kaku,
yaitu bila bahan kemas bersifat keras, kaku, tidak tahan lenturan, patah
bila dipaksa dibengkokkan. Misalnya kayu, gelas, dan logam.
- Kemasan semi
kaku/semi fleksibel, yaitu bahan kemas yang memiliki sifat-sifat antara
kemasan fleksibel dan kemasan kaku, seperti botol plastik (susu, kecap, saus) dan wadah bahan yang berbentuk
pasta.
4. Sifat Perlindungan Terhadap Lingkungan
- Kemasan
Hermetis, yaitu wadah yang secara sempurna tidak dapat dilalui oleh gas, misalnya kaleng dan botol gelas.
- Kemasan Tahan Cahaya, yaitu wadah yang tidak
bersifat transparan, misalnya kemasan logam, kertas dan foil. Kemasan ini
cocok untuk bahan pangan yang mengandung lemak dan vitamin yang tinggi, serta makanan yang
difermentasi.
- Kemasan Tahan
Suhu Tinggi, jenis ini digunakan untuk bahan pangan yang memerlukan proses pemanasan, sterilisasi, atau pasteurisasi.
5. Tingkat Kesiapan pakai
- Wadah Siap
Pakai, yaitu bahan kemas yang siap untuk diisi dengan bentuk yang telah
sempurna sejak keluar dari pabrik. Contohnya adalah wadah botol,
wadah kaleng, dan sebagainya.
- Wadah Siap Dirakit
atau disebut juga wadah lipatan, yaitu kemasan yang masih memerlukan tahap
perakitan sebelum pengisian, misalnya kaleng dalam bentuk lempengan dan
silinder fleksibel, wadah yang terbuat dari kertas, foil atau plastik
BAB IV
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari
definisi diatas bahwasanya dapat dsimpulkan :
1. Pasar merupakan wilayah utama untuk
memproduksi bahan pangan
2. Pengemasan merupakan sistem yang
terkoordinasi untuk menyiapkan barang menjadi siap untuk ditransportasikan,
didistribusikan,
disimpan, dijual, dan dipakai. Adanya wadah atau pembungkus dapat membantu
mencegah,memperlambat atau mengurangi kerusakan, melindungi produk yang ada di
dalamnya,
3. kemasan
botol dan cup plastik saat ini sangat banyak digunakan untuk minuman. Banyak
sekali ragamnya, ada minuman sari buah, jelly drink, nata de coco, soft drink,
juice, susu kedelai dll.
3.2 Saran
”Kritikan dari dosen sangat
dibutuhkan, agar mencapai titik masksimal dalam penyusunan dan pembuatan
makalah,serta isi yang dipaparkan”
3.3 Daftar Pustaka
Http//www.google
search.com, 5 November 2011
http://www.juicetrue.blogspot.com
5 November 2011
Soepomo
s,1985 : kamus sains ilmu pengetahuan alam,Jakarta 2004,balai pustaka
Drs.kardiman dkk,2005 :Ekonomi,dunia keseharian kita,untuk sma kelas I SMP
, 2005, yudhistira.


No comments:
Post a Comment