PENDAHULUAN
Latar Belakang
Senyawa metabolit sekunder merupakan
senyawa yang tidak essensial bagi pertumbuhan organisme. Metabolit sekunder
digunakan organisme untuk berinteraki dengan lingkungannya. Begitu pula dengan
mikroorganisme patogen benih seperti cendawan, bakteri, virus, dll menghasilkan
metabolit sekunder untuk berinteraksi dengan lingkungan dan inangnya. Metabolit
sekunder dihasilkan dari proses metabolisme sekunder. Metabolit sekunder
tertentu hanya ditemukan pada organisme spesifik, atau bahkan strain
yang spesifik, dan hanya diproduksi pada kondisi-kondisi tertentu (Sunarminingsih
2002).
Mikroorganisme yang menjadi patogen
terbawa benih juga menghasilkan senyawa metabolit sekunder. Patogen yang
menginfeksi ke dalam jaringan benih selain menghasilkan senyawa metabolit
pirmer untuk mekanisme hidupnya juga menghasilkan senyawa metabolit sekunder
sebagai mekanismenya untuk tetap bertahan hidup. Senyawa metabolit primer yang
dihasilkan patogen bersifat patogenik terhadap benih inangnya. Akan tetapi,
senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan ini memiliki pengaruh yang berbeda-beda
baik terhadap inang benih. Manfaat senyawa metabolit ini sekunder dapat
meningkatkan persentase kecambah inangnya, dapat menurunkan persentase
kecambah, dan mampu menekan patogen terbawa benih lainnya (antagonis).
Menurut Aziz dan Mahrous (2004), Aspergillus flavus yang memproduksi aflatoxins mampu menurunkan kandungan
lipid dan karbohidrat pada benih gandum, kedelai, dan buncis. Dilaporkan oleh
Koffi et al. (2007) bahwa cendawan terbawa biji kakao adalah Aspergillus spp., Fusarium spp., Botrytis spp.,
Chaetomium spp., dan Rhizopus spp. Cendawan Aspergillus dan Fusarium memproduksi fumonisin, mycotoxin, vomitoxin,
diacetoxyscirpenol, ochratoxin A, trichothecens, dan zeralenon (Domijan et al.,
2005; Tseng et al., 1995; Kritzinger et al., 2003; Sanchez-Hervas et al.,
2008).
Papuangan (2009) melakukan uji in vitro yang
menunjukkan bahwa enam isolat Stretomyces
spp lokal mampu menghambat mikroba patogen tular tanah dengan baik. Lima isolat
diantara mampu menghambat kuat terhadap B.
subtilis, B. cereus, dan X. axonopodis. Sedangkan R. solanacearum hanya mampundihambat
oleh dua isolat Streptomyces spp.
Pada praktikum ini dilakukan pengujian untuk
mengetahui pengaruh konsentrasi metabolit sekunder yang dihasilkan oleh cendawan
terbawa benih Aspergillus sp dan Fusarium sp terhadap viabilitas benih.
Tujuan
Praktikum ini dilaksanakan dengan tujuan untuk
mengetahui pengaruh konsentrasi metbolit sekunder yang dihasilkan dari cendawan
patogen Aspergillus sp dan Fusarium sp terhadap viabilitas benih kedelai,
jagung, dan padi.
BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada bulan Mei 2003 di
Laboratorium Bakteri Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.
Alat dan Bahan
Bahan digunakan antara lain cendawan Fusarium sp dan Aspergillus sp hasil isolasi dan pemurnian, benih kedelai, benih
jagung, benih padi, media PDA (Potato
Dextrose Agar), media PDB (Potato
Dextrose Broth), akuades, dan kertas saring. Alat yang digunakan antara
lain cork borrer, cawan petri, tabung
erlenmeyer, shaker, pinset, dan
ruangan suhu ruang.
Pelaksanaan
Cendawan Fusarium sp dan Aspergillus sp yang digunakan untuk diambil senyawa metabolit
sekundernya diisolasi dari benih pada media PDA (Potato Dextrose Agar), kemudian dimurnikan. Cendawan yang sudah
dimurnikan, diinokulasikan ke media PDB (Potato
Dextrose Broth) 100 ml dengan cara mengambil 3 cork borrer isolat cendawan murni. Kemudian diinkubasi selama 2
bulan dengan cara setiap hari di-shaker
selama 2-3 jam pada suhu ruang. Setelah di-shaker,
isolat kembali diinkubasi pada suhu ruang. Media PDB yang mengandung cendawan
kemudian disaring dan diambil supernatannya pada 2, 4, 6, dan 8 mg.
Selanjutnya, larutan metabolit dari masing-masing isolat cendawan dibuat dengan
konsentrasi 100%, 50%, 25%, dan 12.5% dengan pengenceran berseri. Pengenceran
berseri dilakukan dengan cara mengambil 50 ml metabolit dari 100 ml metabolit,
lalu ditambahkan 50 ml akuades untuk konsentrasi metabolit 50%. Untuk pengenceran metabolit dengan
konsentrasi 25%, dilakukan dengan cara mengambil 25 ml metabolit dari 100 ml
metabolit dan ditambahkan 75 ml akuades. Untuk pengenceran metabolit dengan
konsentrasi 12.5%, dilakukan dengan cara mengambil 12.5 ml metabolit dan
ditambahkan akuades sebanyak 87.5 ml. Benih kedelai, jagung, dan padi direndam
ke dalam metabolit selama 1.5 jam. Benih yang sudah direndam di-plating di atas kertas saring yang sudah
dilembabkan dalam cawan petri. Kemudian diinkubasi pada suhu ruang selama seminggu
dan diamati viabilitas benih dan gejalanya yang timbul.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Benih yang telah direndam pada
berbagai macam konsentrasi metabolit sekunder cendawan Fusarium solani dan Aspergillus
sp di kecambahkan di atas kertas saring lembab dalam cawan petri dan diamati
persen perkecambahannya serta persen infeksinya masing-masing mikroorganisme
patogen yang muncul. Hasil pengamatan pengaruh konsentrasi senyawa metabolit
sekunder Fusarium solani terhadap perkecambahan benih padi, kedelai, dan jagung
dapat dilihat pada Tabel 1, sedangkan pengaruh konsentrasi metabolit sekunder
Aspergillus sp dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 1 menunjukkan benih padi yang
direndam pada metabolit sekunder Fusarium solani dengan konsentrasi 100%
menghasilkan persen perkecambahan benih lebih tinggi dari benih padi yang
direndam pada konsentrasi 12.5%. Berdasarkan persen infeksinya dari
masing-masing patogen yang muncul, persen infeksi Aspergillus sp mengalami
penurunan ketika konsentrasi metabolit sekunder dari 12.5% ditingkatkan menjadi
25%. Bahkan pada konsentrasi 100%, infeksi cendawan Aspergillus sp tidak ada, hanya
ditemukan patogen bakteri dengan warna koloni putih yang persen infeksinya juga
mengalami penurunan pada konsentrasi metaboli 100%. Hal ini mengindikasikan
bahwa semakin tingginya konsentrasi metabolit sekunder yang dihasilkan Fusarium sp dapat memacu peningkatan
persen perkecambahan benih padi dan menekan persen infeksi beberapa jenis
patogen.
Pada benih kedelai, semakin
meningkatnya konsentrasi metabolit sekunder terjadi penurunan persen
perkecambahan, dan pada konsentrasi 50% persen perkecambahan yang dihasilkan
paling rendah. Tingkat konsentrasi metabolit sekunder tidak mempengaruhi persen
infeksi cendawan Aspergillus flavus, sedangkan
semakin meningkatnya konsentrasi metabolit sekunder, persen infeksi cendawan
Fusarium moniliformae juga semakin meningkat. Persen infeksi cendawan
Aspergillus niger meningkat ketika konsentrasi metabolit sekunder meningkat
menjadi 25%, tetapi persen infeksinya tidak terjadi peningkatan pada
konsentrasi metabolit sekunder hingga 100%. Hal ini mengindikasikan bahwa
senyawa metabolit sekunder Fusarium sp yang semakin tinggi cenderung menurunkan
persen perkecambahan benih serta dapat menahan perkembangan beberapa patogen
tetapi meningkatkan persen infeksi cendawan dari satu genus yang sama.
Tabel 1
Hasil pengamatan metabolit sekunder
Fusarium solani
Komoditas
|
Perlakuan
|
Persen
perkecambahan benih
(%)
|
Mikroorganisme
|
Persen infeksi
(%)
|
Padi
|
12.5 %
|
8.16
|
Aspergillus sp.
Bakteri koloni putih
|
10
2.66
|
25 %
|
10.66
|
Aspergillus sp
|
4
|
|
50 %
|
12
|
Cendawan hifa putih
Bakteri krem
|
4
1.33
|
|
100 %
|
15.11
|
Hifa putih
Bakteri putih susu
|
8
1.33
|
|
Kedelai
|
12.5 %
|
96.66
|
Aspergillus
niger
Penocillium sp./ Aspergillus
flavus
Fusarium moniliformae
|
7.33
10
50
|
25 %
|
93.33
|
Aspergillus sp.
Fusarium sp.
Aspergillus niger
Fusarium
moniliformae Aspergilus flavus
|
10
10
10
33.33
10
|
|
50 %
|
90
|
Aspergillus
flavus
Aspergillus sp.
bakteri: koloni
krem keriput
Fusarium
moniliformae
|
16.6
10
10
20
|
|
100 %
|
93.33
|
Aspergillus flavus
Aspergillus sp.
Aspergillus niger
Fusarium
moniliformae Trichoderma sp.
|
10
10
10
30
13.3
|
|
Jagung
|
12.5 %
|
96.66
|
Aspergillus
flavus
Fusarium sp.
Aspergillus niger
Rhizoctonia sp.
|
10
33.3
10
33.3
|
25 %
|
90
|
Fusarium sp.
Aspergillus
flavus
Aspergillus niger
Fusarium solani
Fusarium moniliforme
|
33.3
10
30
33.3
6.66
|
|
50 %
|
96.66
|
Fusarium sp./Penicillium
sp.
Aspergillus
flavus
Penicillium
sp.
Aspergillus
niger
Aspergillus sp.
|
26.66
10
10
10
30
|
|
100 %
|
92.59
|
Fusarium sp.
Aspergillus niger
Fusarium moniliforme
Aspergillus sp
Trichoderma sp.
|
33.33 22.22 16.66
10
10
|
Benih
jagung yang direndam pada metabolit sekunder Fusarium solani tidak menunjukka
pengaruh terhadap persen perkcambahan benihnya. Persen perkecambahan benih
jagung cenderung berfluktuasi seiring dengan meningkatnya konsentrasi metabolit
sekunder. Begitu pula dengan persen infeksi patogennya yang tidak menunjukkan
pengaruh yang signifikan seiring dengan meningkatnya konsentrasi metabolit
sekunder, kecuali patogen Fusarium sp yang masih satu genus.
Tabel 2
menunjukkan pengaruh konsentrasi metabolit sekunder terhadap benih padi terjadi
peningkatan persen perkecambahan. Patogen yang menginfeksi benih ini selain Aspergillus niger dan Aspergillus flavus yang masih satu genus
dengan senyawa metabolit cenderung menurun bahka tidak ada. Hal ini
mengindikasika bahwa senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan Aspergillus sp dapat menekan jumlah
patogen kecuali patogen yang masih genus. Hal yang serupa terjadi pada benih
kedelai dan benih jagung yang cenderung meningkat persen perkecambahannya dan
menurun persen infeksi patogennya seiring dengan semakin meningkatnya
konsentrasi metabolit sekunder Aspergillus
sp.
Tabel 2
Hasil pengamatan metabolit sekunder
Aspergillus sp.
Komoditas
|
Perlakuan
|
Persen
perkecambahan benih
(%)
|
Mikroorganisme
|
Persen infeksi
(%)
|
Padi
|
12.5 %
|
4
|
Aspergillus niger
Fusarium sp.
Aspergillus flavus
|
24
2.66
30.66
|
25 %
|
6.66
|
Aspergillus niger
Aspergillus flavus
|
26.66
32
|
|
50 %
|
4.33
|
Aspergillus niger
Aspergillus flavus
|
28
32
|
|
100 %
|
8
|
Aspergillus niger
Aspergillus flavus
|
25.33
33. 33
|
|
Kedelai
|
12.5 %
|
90
|
Aspergillus sp
Aspergillus flavus
|
16.66
56.66
|
25 %
|
96.66
|
Aspergillus sp.
Fusarium sp.
Aspergillus flavus
|
16.66
26.66
33.33
|
|
50 %
|
92
|
Aspergillus sp.
Aspergillus flavus
|
30
40
|
|
100 %
|
98.88
|
Aspergillus sp.
Aspergillus flavus
Fusarium sp.
|
33.33
63.33
3.33
|
|
Jagung
|
12.5 %
|
76.66
|
Fusarium sp.
Aspergillus flavus
|
43.33
30
|
25 %
|
96.66
|
Aspergillus sp
Trichoderma sp.
Penicillium sp.
Aspergillus flavus
Fusarium sp.
|
13.33
3.33
10
23.33
23.33
|
|
50 %
|
70
|
Aspergillus plavus
Aspergillus flavus
Fusarium sp.
|
16.66
16.66
26.66
|
|
100 %
|
100
|
Fusarium solani
Fusarium sp.
|
16.66
6.66
|
Berdasarkan
hasil yang didapat, senyawa metabolit sekunder Aspergillus sp lebih mampu meningkatkan pekecambahan benih dan
menekan jumlah patogen jika dibandingkan dengan metabolit sekunder Fusarium solani.
Metabolit
sekunder yang diahasilkan oleh mikroorganisme (cendawan, virus, bakteri, dll)
yang terbawa maupun diinokulasikan ke benih memiliki 3 peranan yaitu (1)
meningkatkan perkecambahan benih karena metabolit sekunder tersebut berupa
senyawa yang dapat meningkatkan perkecambahan benih dan mendukung pertanaman
selanjutnya; (2) menurunkan perkecambahan benih karena metabolit sekunder yang
dihasilkan bersifat toksik terhadap benih sehingga menyebabkan kerusakan pada
bagian-bagian benih, terutama embrio, bahakan menyebabkan kematian pada benih;
(3) mampu menekan patogen lain yang menginfeksi benih karena senyawa toksikyang
dihasilkan sehingga dapat menekan jumlah patogen yang lain.
Sutariati (2006) menjelaskan isolat
bakteri kelompok Bacillus dan Pseudomonas yang diinokulasikan ke benih cabai
dapat meningkatkan perkecambahan benih cabai hingga87% dari kontrol 61%. Hal
ini dikarenakan kelompok isolat bekteri tersebut mampu menghasilkan auksin yang
membantu meningkatkan perkecambahan benih cabai. Selain itu kelompok bakteri
Pesudomonas fluorescens menghasilkan Senyawa HCN merupakan senyawa metabolit
sekunder yang bersifat toksik terhadap cendawan patogen (Ramamoorthy et al.,
2002). Kelompok bakteri tersebut juga mampu menghasilkan senyawa siderofor.
Menurut Dwivedi & Johri (2003), senyawa siderofor yang diproduksi oleh
bakteri dan cendawan tidak bersifat toksik terhadap patogen dan mempunyai
kemampuan mengkelat besi dalam kondisi lingkungan yang kekurangan Fe. kemampuan
mengkelat Fe terkait dengan mekanisme antagonisme melalui kompetisi terhadap
hara, sehingga adanya senyawa siderofor ini mampu menekan cendawa Colletotrichum capsici.
Pakki
(2005) menjelaskan bahwa metabolisme sekunder yang terjadi pada dua jenis
cendawan ini menghasil metabolit sekunder berupa toksin fumonisin pada F. verticillioides, dan Aspergillus flavus memproduksi
aflatoksin. Pada kondisi lingkungan tertentu, A.flavus dapat menghasilkan toksin yang disebut aflatoksin. Kemampuan
cendawan tersbut membentuk dan menimbun aflatoksin tergantung pada beberapa
faktor yaitu potensi genetik kapang, persyaratan lingkungan (substrat,
kelembaban, suhu, pH), dan lamanya kontak antara kapang dengan substrat (Jay
1996). Substrat jagung, gandum, dan beras yang diinokulasikan dengan tiga
isolat A.flavus dapat menghasilkan aflatoksin lebih tinggi dibandingkan dengan
biakan sorgum dan kedelai pada kultur tetap maupun bergoyang. Aspergillus flavus juga dapat
menghasilkan aflatoksin jenis lain bila ditumbuhkan dalam media asam yang
memiliki warna fluoresensi biru dan hijau dengan kepolaran lebih besar dan daya
racun lebih kecil. Keadaan lingkungan seperti itu merupakan salah satu upaya
yang dapat digunakan untuk inaktivasi aflatoksin pada bahan pangan maupun pakan.
Selain
aflatoksin, A.flavus juga
menghasilkan komponen toksik seperti sterigmatosistin, cyclopiazonic acid,
kojic acid, bnitropropionic acid, aspertoxin, aflatrem, gliotoxin, dan asam
aspergilik (Hedayati et al. 2007). Bahaya Aspergillus
flavus bervariasi dari hipersensitivitas hingga infeksi invasif yang
dihubungkan dengan angioinvasion.
KESIMPULAN
Metabolit
sekunder yang dihasilkan Fusarium solani
dan Aspergillus sp memiliki pengaruh
yang berbeda-beda pada setiap komoditas benih. Metabolit sekunder ini memiliki
peran dapat emningkatkan perkecambahan benih, menurunkan perkecambahan beni
serta menekan jumlah patogen terbawa benih yang lainnya. Hasil praktikum
menunjukkan metabolit sekunder yang dihasilkan Aspergillus sp mampu menekan jumlah patogen lebih banyak dan
meningkatkan perkecambahan benih dibandingkan dengan metabolit sekunder Fusarium sp.
DAFTAR PUSTAKA
Aziz
NH, Mahrous SR. 2004. Effect of gamma irradiation on aflatoxin B1 production by
Aspergillus flavus and chemical composition of three crop seeds. Nahrunig.
Wiely-Vclt Verlag GMBtt and Co. KgaA, Weinheim, Germany 48: 234 – 238.
Dwivedi
D, Johri BN. 2003. Antifungal from fluorescens pseudomonads: biosynthesis and
regulation. Current Sci. 85:1693–1703.
Domijan
A M, Peracia M, Zlender V, Cvjetkovic B, Jurjevic Z, Topolovec-Pintaric S, Ivic
D. 2005. Seed-borne fungi and ochratoxin A contamination of dry beans
(Phaseolus vulgaris L.) in the Republic of Crotaia. Food and chemical
Toxicdogy. Elsevier Ltd, Amsterdam, Netherlands: 43: 427-432
Koffi
NR, Yao ND, Manizan NP. 2007. Enumeration and identification of main fungal
isolates and evaluation of fermentation’s degree of ivorian raw cocoa beans.
Australian Journal of Basic and Applied Sciences. 1 (14): 479-486.
Kritzinger
Q, Aveling TAS, Marasas WFO, Rheeder JP, Van Der Westhuizen L, Shephard GS.
2003. Mycoflora and fumonsis mycotoxins associated with cowpea (Vigna
unguiculata (L.) Walp) seeds. Journal of Agricultural and Food chemistry.
American Chemical Society, Washington, USA: 51: 21-2192
Papuangan
N. 2009. Aktivitas Antimikrob Streptomyces spp. Penghambat Pertumbuhan Mikroba
Patogen Tular Tanah secara in Vitro dan in Planta. [tesis]. Bogor : Program
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Ramamoorthy
V, Raguchander T, Samiyappan R. 2002. Induction of defence-related proteins in
tomato roots treated with Pseudomonas fluorescens Pf1 and Fusarium
oxysporum f.sp. lycopersici. Plant and Soil 239:55–68.
Sanchez-Hervas
M, Gil JV, Bisbal F, Ramon D, Martinez-Culebras PV. 2008. Mycobiota and
mycotoxin producing fungi from cocoa beans. International Journal of Food
Microbiology. 125: 336-340.
Sutariati GAK,
Widodo, Sudarsono, Ilyas S. 2006. Karakter
fisiologis dan keefektifan isolat rizobakteri sebagai agens antagonis Colletotrichum
capsici dan rizobakteri pemacu pertumbuhan tanaman cabai. Jurnal
Ilmiah Pertanian KULTURA 41(
1):28-34.
Sunarminingsih
R. 2002. Metaboli Sekunder: Manfaat dan Perkembangannya dalam Dunia Farmasi.
Yogyakarta (ID). Universitas Gadjah Mada
Tseng,
TC, Tu JC, Tzean SS. 1995. Mycoflora and
mycotoxins in dry bean (Phaseluos vulgaris) produced in Taiwan and Ontario,
Canada. BotanicalBulletin-of-Academic-Sinica. 36:229-234

No comments:
Post a Comment