Cendawan Colletotrichum
acutatum Penyebab Antraknosa dan
Pengendaliannya dengan Agens Antagonis
Penyakit yang paling sering ditemukan pada cabai dan hampir selalu terjadi di setiap areal pertanaman cabai adalahAntraknosa. Penyakit antraknosa disebabkan oleh beberapa spesies cendawan dari genus Colletotrichum yang digolongkan menjadi lima spesies utama yaitu C. gloeosporioides, C. acutatum, C. dematium, C. capsici, dan C. cocodes (Kim et al. 1999). Spesies yang dapat menyebabkan kerusakan pada buah dan kehilangan hasil paling besar yaitu C. gloeosporioides dan C. acutatum (Yoon 2003). Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan secara signifikan terhadap beberapa tanaman sayuran, kacang-kacangan, dan tanaman buah-buahan (Melanie et al. 2004). Di Indonesia, patogen antraknosa yang paling banyak dijumpai menyerang tanaman cabai adalah C. capsici (Syd and Bisb) dan C. gloeosporioides (Penz) Sacc. Akan tetapi, akhir-akhir ini spesies yang paling banyak dijumpai menyerang cabai di Indonesia adalah C. acutatum. Berdasarkan informasi Widodo tahun 2006, dari 13 isolat Colletotrichum yang dikoleksi dari Bogor, Brebes, Bandung, Pasir Sarongge, Payakumbuh dan Mojokerto, tujuh isolat yang berasal dari enam daerah tersebut merupakan C. acutatum (Syukur et al. 2007).
Penyakit yang paling sering ditemukan pada cabai dan hampir selalu terjadi di setiap areal pertanaman cabai adalahAntraknosa. Penyakit antraknosa disebabkan oleh beberapa spesies cendawan dari genus Colletotrichum yang digolongkan menjadi lima spesies utama yaitu C. gloeosporioides, C. acutatum, C. dematium, C. capsici, dan C. cocodes (Kim et al. 1999). Spesies yang dapat menyebabkan kerusakan pada buah dan kehilangan hasil paling besar yaitu C. gloeosporioides dan C. acutatum (Yoon 2003). Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan secara signifikan terhadap beberapa tanaman sayuran, kacang-kacangan, dan tanaman buah-buahan (Melanie et al. 2004). Di Indonesia, patogen antraknosa yang paling banyak dijumpai menyerang tanaman cabai adalah C. capsici (Syd and Bisb) dan C. gloeosporioides (Penz) Sacc. Akan tetapi, akhir-akhir ini spesies yang paling banyak dijumpai menyerang cabai di Indonesia adalah C. acutatum. Berdasarkan informasi Widodo tahun 2006, dari 13 isolat Colletotrichum yang dikoleksi dari Bogor, Brebes, Bandung, Pasir Sarongge, Payakumbuh dan Mojokerto, tujuh isolat yang berasal dari enam daerah tersebut merupakan C. acutatum (Syukur et al. 2007).
Cendawan C. acutatum dideskripsikan sebagai
patogen cendawan pertama yang menyebabkan buah busuk (Simmonds 1965). Selain
itu, C. acutatum juga dilaporkan
dapat menginfeksi jaringan vegetatif tanaman pertanian herbaceous, tanaman berkayu, tanaman hias, tanaman hijauan konifer
(Britton dan Redlin 1995, Brown dan Soepena 1994, Chelemi et al. 1993, Maas dan Palm
1997, Reed et al. 1996, Smith 1993,
Zulfiqar et al. 1996). Colletotrichum acutatum dapat
mempengaruhi sebagian besar bagian tanaman, mulai dari akar ke daun, bunga,
ranting, dan buah yang dapat menyebabkan penyakit seperti mahkota busuk akar,
defoliasi, hawar, dan busuk buah. Namun, infeksi beberapa spesies Colletotrichum dapat menyebabkan
kerugian paling signifikan apabila patogen tersebut menyerang buah (Warton dan
Uribeondo 2004).
Cendawan Colletotrichum menginfeksi tanaman
melalui dua cara yaitu intracellular
hemibiotrophy dan subticular intramural necrotroph. Proses infeksinya
diawali saat konidia cendawan menempel pada kutikula tanaman. Kemudian konidia
berkecambah dan membentuk apressorium.
Apressorium membentuk lubang
penetrasi dan pasak yang mengalami penetrasi ke tanaman inang dan menghasilkan internal light spot (ILS) yang dapat
dilihat di dalam apressorium. Cara
infeksi intracellular hemibiotrophy,
diawali dengan pasak penetrasi menembus sel epidermis dan kemudian mengalami
pembengkakan untuk menghasilkan vesikel infeksi dan hifa secara luas, yang
disebut hifa utama yang dapat bergerak mendekat ke bagian epidermal dan sel-sel
mesofil. Selama proses perpindahan tersebut, terjadi interaksi antara sel-sel
tanaman inang dan patogen yang disebut biotrophic.
Berikutnya, terjadi interaksi necrotrophic
yang ditandai dengan pembentukan hifa sekunder tipis. Hifa sekunder ini tumbuh
secara intraseluler dan interseluler dengan mensekresi dinding sel dengan enzim
dan membunuh sel inang. Cara infeksi subticular
intramural necrotroph, pada awalnya
terjadi kolonisasi inang oleh subticular
dan hifa intramural biotrophic yang
sangat pendek atau sering tidak terjadi. Cendawan cepat menyebar ke seluruh
jaringan tumbuhan baik secara intraseluler maupun interseluler (Balley;
O’Connell dalam Wharton dan Uribeondo
2004).
Penyakit antraknosa
sulit dikendalikan karena infeksi patogennya bersifat laten dan sistemik,
penyebaran inokulum dilakukan melalui benih (seedborne) atau angin serta dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman
sakit di dalam tanah. Cendawan patogen Colletotrichum
dapat menyerang tanaman inang pada segala fase pertumbuhan. Serangan patogen
antraknosa pada fase pembungaan menyebabkan presentase benih terinfeksi tinggi
walaupunbenih tampak sehat (Setyowati et
al. 2007).
Selama ini
pengendalian penyakit dari patogen ini masih bertumpu pada penggunaan fungisida.
Namun, disadari selain hasilnya tidak memuaskan, penggunaan pestisida terus
menerus dapat mengakibatkan timbulnya resistensi patogen, merusak lingkungan
dan berbahaya bagi konsumen (Nurhayati 2007).
Saat ini telah
banyak dikembangkan teknologi baru untuk pengendalian penyakit antraknosa yang
lebih ramah lingkungan. penggunaan agens antagonis untuk menekan terjadinya
serangan antraknosa, salah satu diantaranya yaitu pemanfaatan agens antagonis.
Pemanfaatan agens antagonis tersebut diterapkan dengan berbagai metode, yaitu
pengendalian pada tanaman selama di pertanaman,
maupun pengendalian pada benih sebelum tanam.
Menurut
Sutariati (2006), isolat rizobakteri dapat berperan sebagai agens antagonis
dalam menekan antraknosa pada cabai. Isolat bakteri Pseudomonas sp dan Bacillus
sp dapat bersifat antagonis terhadap Colletotrichum.
Isolat Bacillus sp memiliki daya hambat terhadap Colletotrichum capsici hingga mencapai 50%, sedangkan isolat
Pseudomonas sp memiliki daya hambat mencapai 40%. Berdasarkan hasil penelitiannya tidak semua
isolat rizobakteri mampu memproduksi enzim ekstra-seluler (kitinase, protease,
dan selulase), mensintesis senyawa HCN dan senyawa siderofor, serta melarutkan
fosfat. Kemampuan memproduksi enzim ekstraseluler, HCN, dan siderofor bukan
satusatunya penentu keefektifan daya hambat isolat rizobakteri terhadap
pertumbuhan koloni C. capsici. Kemampuan melarutkan fosfat juga bukan sebagai
satu-satunya penentu kemampuan isolat rizobakteri sebagai pemacu pertumbuhan
tanaman cabai. Menurut Zang (2004), sifat antagonisme antara rizobakteri dengan
cendawan patogen dapat terjadi melalui mekanisme antibiosis, kompetisi,
parasitisme/predatorisme, produksi enzim ekstra seluler atau induksi resistensi.
DAFTAR
PUSTAKA
Britton KO, Redlin SC. 1995. Damping-off of flowering dogwood
seedlings caused by Colletotrichum
acutatum and Fusarium oxysporum. Pl Dis 79:1188
Brown AE,
Supoena H., 1994 Pathogenicity of Colletotrichum acutatum and C.
gloeosporioides on leaves of Hevea spp. Mycol Res 98:264-266
Chelemi DO, Knox G, Palm ME. 1993. Limb dieback of flowering dogwood caused
by Colletotrichum
acutatum. Pl
Dis 77:100
Kim KD,
Oh BJ, Yang J. 1999. Differential interaction of a Colletotrichum
gloeosporioides isolate with green and red pepper fruits. Phytoparasitica 27(2):1–10.
Maas JL, Palm ME. 1997. Occurrence of anthracnose irregular
leafspot, caused by Colletotrichum
acutatum, on
strawberry in Maryland. Advances
Strawberry Res
16:68-70.
Melanie
LLI, Ivey L, Diaz CN, Miller SA. 2004. Identification and management of Colletotrichum acutatum on immature bell
pepers. Plant Disease
88(11):1198-1204.
Nurhayati. 2007. Pertumbuhan Colletotrichum capsici penyebab
antraknosa buah cabai pada berbagai media yang mengandung ekstrak tanaman. Jurnal Rafflesia 9(1):32-35.
Reed PJ, Dickens JSW, O'Neill TM. 1996. Occurrence of anthracnose (Colletotrichum acutatum) on ornamental lupin in the United
Kingdom. Pl Pathol 45:245-248
Setiyowati H,
Surahman M, Wiyono S. 2007. Pengaruh seed
coating dengan fungisida benomil dan tepung curcuma terhadap patogen
antraknosa terbawa benih dan viabilitas benih cabai besar (Capsicum annuum L.).
Bul. Agron. 35(3):176 – 182.
Simmonds
JH. 1965. A study of the species of Colletotrichum causing ripe fruit
rots in Queensland. Queensland J Agric Sci 22:437-459
Smith VL. 1993. Infection of dogwood fruit by Colletotrichum acutatum in Connecticut. Pl
Dis 77:536
Syukur
M, Sujiprihati S, Koswara J, Widodo. 2007. Pewarisan ketahanan cabai (Capsicum annuum L.) terhadap antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum acutatum. Bul. Agron 35(2):112-117.
Wharton PS, Uribendo JD. 2004. The biology
of Colletotrichum acutatum. Anales del Jardín Botánico de Madrid 61(1): 3-22.
Yoon JB.
2003. Identification of Genetic Resources, Interspecific Hybridization, and
Inheritance Analysis for Breeding Pepper (Capsicum
annuum) Resistant to Anthracnose. Disertasi. Seoul National University,
Seoul.
Zhang, Y. 2004.
Biocontrol of Sclerotinia Stem rot of Canola by Bacterial Antagonists and Study
of biocontrol Mechanism Involved [Thesis]. Winnipeg, Canada: Departement of
Plant Science, University of Manitoba.
Zulfiqar M, Brlansky RH, Timmer LW. 1996. Infection of flower and vegetative
tissues of citrus by Colletotrichum
acutatum and C. gloeosporioides. Mycologia 88:121-28

No comments:
Post a Comment