loading...

Wednesday, November 30, 2016

CENDAWAN COLLETOTRICHUM ACUTATUM PENYEBAB ANTRAKNOSA DAN PENGENDALIANNYA DENGAN AGENS ANTAGONIS

Cendawan Colletotrichum acutatum Penyebab Antraknosa dan Pengendaliannya dengan Agens Antagonis

              Penyakit yang paling sering ditemukan pada cabai dan hampir selalu terjadi di setiap areal pertanaman cabai adalahAntraknosa. Penyakit antraknosa disebabkan oleh beberapa spesies cendawan dari genus Colletotrichum yang digolongkan menjadi lima spesies utama yaitu C. gloeosporioides, C. acutatum, C. dematium, C. capsici, dan C. cocodes (Kim et al. 1999). Spesies yang dapat menyebabkan kerusakan pada buah dan kehilangan hasil paling besar yaitu C. gloeosporioides dan C. acutatum (Yoon 2003). Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan secara signifikan terhadap beberapa tanaman sayuran, kacang-kacangan, dan tanaman buah-buahan (Melanie et al. 2004). Di Indonesia, patogen antraknosa yang paling banyak dijumpai menyerang tanaman cabai adalah C. capsici (Syd and Bisb) dan C. gloeosporioides (Penz) Sacc. Akan tetapi, akhir-akhir ini spesies yang paling banyak dijumpai menyerang cabai di Indonesia adalah C. acutatum. Berdasarkan informasi Widodo tahun 2006, dari 13 isolat Colletotrichum yang dikoleksi dari Bogor, Brebes, Bandung, Pasir Sarongge, Payakumbuh dan Mojokerto, tujuh isolat yang berasal dari enam daerah tersebut merupakan C. acutatum (Syukur et al. 2007).
Cendawan C. acutatum dideskripsikan sebagai patogen cendawan pertama yang menyebabkan buah busuk (Simmonds 1965). Selain itu, C. acutatum juga dilaporkan dapat menginfeksi jaringan vegetatif tanaman pertanian herbaceous, tanaman berkayu, tanaman hias, tanaman hijauan konifer (Britton dan Redlin 1995, Brown dan Soepena 1994, Chelemi et al. 1993,  Maas dan Palm 1997, Reed et al. 1996, Smith 1993, Zulfiqar et al. 1996). Colletotrichum acutatum dapat mempengaruhi sebagian besar bagian tanaman, mulai dari akar ke daun, bunga, ranting, dan buah yang dapat menyebabkan penyakit seperti mahkota busuk akar, defoliasi, hawar, dan busuk buah. Namun, infeksi beberapa spesies Colletotrichum dapat menyebabkan kerugian paling signifikan apabila patogen tersebut menyerang buah (Warton dan Uribeondo 2004).
Cendawan Colletotrichum menginfeksi tanaman melalui dua cara yaitu intracellular hemibiotrophy dan subticular intramural necrotroph. Proses infeksinya diawali saat konidia cendawan menempel pada kutikula tanaman. Kemudian konidia berkecambah dan membentuk apressorium. Apressorium membentuk lubang penetrasi dan pasak yang mengalami penetrasi ke tanaman inang dan menghasilkan internal light spot (ILS) yang dapat dilihat di dalam apressorium. Cara infeksi intracellular hemibiotrophy, diawali dengan pasak penetrasi menembus sel epidermis dan kemudian mengalami pembengkakan untuk menghasilkan vesikel infeksi dan hifa secara luas, yang disebut hifa utama yang dapat bergerak mendekat ke bagian epidermal dan sel-sel mesofil. Selama proses perpindahan tersebut, terjadi interaksi antara sel-sel tanaman inang dan patogen yang disebut biotrophic. Berikutnya, terjadi interaksi necrotrophic yang ditandai dengan pembentukan hifa sekunder tipis. Hifa sekunder ini tumbuh secara intraseluler dan interseluler dengan mensekresi dinding sel dengan enzim dan membunuh sel inang. Cara infeksi subticular intramural necrotroph, pada awalnya terjadi kolonisasi inang oleh subticular dan hifa intramural biotrophic yang sangat pendek atau sering tidak terjadi. Cendawan cepat menyebar ke seluruh jaringan tumbuhan baik secara intraseluler maupun interseluler (Balley; O’Connell dalam Wharton dan Uribeondo 2004).
Penyakit antraknosa sulit dikendalikan karena infeksi patogennya bersifat laten dan sistemik, penyebaran inokulum dilakukan melalui benih (seedborne) atau angin serta dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman sakit di dalam tanah. Cendawan patogen Colletotrichum dapat menyerang tanaman inang pada segala fase pertumbuhan. Serangan patogen antraknosa pada fase pembungaan menyebabkan presentase benih terinfeksi tinggi walaupunbenih tampak sehat (Setyowati et al. 2007).
Selama ini pengendalian penyakit dari patogen ini masih bertumpu pada penggunaan fungisida. Namun, disadari selain hasilnya tidak memuaskan, penggunaan pestisida terus menerus dapat mengakibatkan timbulnya resistensi patogen, merusak lingkungan dan berbahaya bagi konsumen (Nurhayati 2007).
Saat ini telah banyak dikembangkan teknologi baru untuk pengendalian penyakit antraknosa yang lebih ramah lingkungan. penggunaan agens antagonis untuk menekan terjadinya serangan antraknosa, salah satu diantaranya yaitu pemanfaatan agens antagonis. Pemanfaatan agens antagonis tersebut diterapkan dengan berbagai metode, yaitu pengendalian pada tanaman selama di pertanaman,  maupun pengendalian pada benih sebelum tanam.
Menurut Sutariati (2006), isolat rizobakteri dapat berperan sebagai agens antagonis dalam menekan antraknosa pada cabai. Isolat bakteri Pseudomonas sp dan Bacillus sp dapat bersifat antagonis terhadap Colletotrichum. Isolat Bacillus sp memiliki daya hambat terhadap Colletotrichum capsici hingga mencapai 50%, sedangkan isolat Pseudomonas sp memiliki daya hambat mencapai 40%.  Berdasarkan hasil penelitiannya tidak semua isolat rizobakteri mampu memproduksi enzim ekstra-seluler (kitinase, protease, dan selulase), mensintesis senyawa HCN dan senyawa siderofor, serta melarutkan fosfat. Kemampuan memproduksi enzim ekstraseluler, HCN, dan siderofor bukan satusatunya penentu keefektifan daya hambat isolat rizobakteri terhadap pertumbuhan koloni C. capsici. Kemampuan melarutkan fosfat juga bukan sebagai satu-satunya penentu kemampuan isolat rizobakteri sebagai pemacu pertumbuhan tanaman cabai. Menurut Zang (2004), sifat antagonisme antara rizobakteri dengan cendawan patogen dapat terjadi melalui mekanisme antibiosis, kompetisi, parasitisme/predatorisme, produksi enzim ekstra seluler atau induksi resistensi.



DAFTAR PUSTAKA
Britton KO, Redlin SC. 1995. Damping-off of flowering dogwood seedlings caused by Colletotrichum acutatum and Fusarium oxysporum. Pl Dis 79:1188
Brown AE, Supoena H., 1994 Pathogenicity of Colletotrichum acutatum and C. gloeosporioides on leaves of Hevea spp. Mycol Res 98:264-266
Chelemi DO, Knox G, Palm ME. 1993. Limb dieback of flowering dogwood caused by Colletotrichum acutatum. Pl Dis 77:100
Kim KD, Oh BJ, Yang J. 1999. Differential interaction of a Colletotrichum gloeosporioides isolate with green and red pepper fruits. Phytoparasitica 27(2):1–10.
Maas JL, Palm ME. 1997. Occurrence of anthracnose irregular leafspot, caused by Colletotrichum acutatum, on strawberry in Maryland. Advances Strawberry Res 16:68-70.
Melanie LLI, Ivey L, Diaz CN, Miller SA. 2004. Identification and management of Colletotrichum acutatum on immature bell pepers. Plant Disease 88(11):1198-1204.
Nurhayati. 2007. Pertumbuhan Colletotrichum capsici penyebab antraknosa buah cabai pada berbagai media yang mengandung ekstrak tanaman. Jurnal Rafflesia 9(1):32-35.
Reed PJ, Dickens JSW, O'Neill TM. 1996. Occurrence of anthracnose (Colletotrichum acutatum) on ornamental lupin in the United Kingdom. Pl Pathol 45:245-248
Setiyowati H, Surahman M, Wiyono S. 2007. Pengaruh seed coating dengan fungisida benomil dan tepung curcuma terhadap patogen antraknosa terbawa benih dan viabilitas benih cabai besar (Capsicum annuum L.). Bul. Agron. 35(3):176 – 182.
Simmonds JH. 1965. A study of the species of Colletotrichum causing ripe fruit rots in Queensland. Queensland J Agric Sci 22:437-459
Smith VL. 1993. Infection of dogwood fruit by Colletotrichum acutatum in Connecticut. Pl Dis 77:536
Syukur M, Sujiprihati S, Koswara J, Widodo. 2007. Pewarisan ketahanan cabai (Capsicum annuum L.)  terhadap antraknosa yang disebabkan oleh Colletotrichum acutatum. Bul. Agron 35(2):112-117.
Wharton PS, Uribendo JD. 2004. The biology of Colletotrichum acutatum. Anales del Jardín Botánico de Madrid 61(1): 3-22.
Yoon JB. 2003. Identification of Genetic Resources, Interspecific Hybridization, and Inheritance Analysis for Breeding Pepper (Capsicum annuum) Resistant to Anthracnose. Disertasi. Seoul National University, Seoul.
Zhang, Y. 2004. Biocontrol of Sclerotinia Stem rot of Canola by Bacterial Antagonists and Study of biocontrol Mechanism Involved [Thesis]. Winnipeg, Canada: Departement of Plant Science, University of Manitoba.

Zulfiqar M, Brlansky RH, Timmer LW. 1996. Infection of flower and vegetative tissues of citrus by Colletotrichum acutatum and C. gloeosporioides. Mycologia 88:121-28

No comments:

Post a Comment

Proposal MAJLIS TA"LIM

Project Proposal PERMOHONAN BANTUAN RUTINITAS PELAKSANAAN KEGIATAN MAJLIS TA’LIM                   LOGO       ...