ANALISIS MUTU BENIH (AGH 656)
UJI KEMURNIAN BENIH
Oleh:
Zulfikar Saimi
Dosen Praktikum:
Dr. Ir. Eny
Widjayati, MS
Candra Budiman, SP,
M.Si
PROGRAM STUDI ILMU DAN
TEKNOLOGI BENIH
DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016
I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Secara umum
bahan dasar dalam budidaya tanaman
adalah benih yang memegang
peranan yang sangat penting baik dalam perbanyakan tanaman maupun dalam memperoleh produk hasil
tanamannya (Ricki B, 2011). Namun itu
perlu dilakukan Pengujian mutu dengan menyediakan
contoh benih yang dapat dianggap seragam dan memenuhi persyaratan yang telah
ditetapkan oleh ISTA ataupun lembaga perbenihan yang telah terakreditasi. Dasar dari
penarikan contoh adalah untuk mendapatan contoh benih yang mewakili kelompok
benih dalam jumlah yang cukup untuk keperluan pengujian mutu benih. Pada
perinsipnya uji kemurnian dilakukan setelah melalui beberapa tahap pengambilan
contoh benih yang dilakukan dari dari beberapa bagian yaitu dari suatu kelompok
benih (contoh primer) kemudian dicampur menjadi satu wadah (contoh campur),
selanjutnya benih campur dikurangi sesuai standar masing-masing benih yang
telah ditetapkan oleh ISTA dan dikirim ke laboratorium (contoh kirim) untuk
dilakukan pengujian. Sebelum pengujian kemurnian benih contoh yang kirim dilakukan
terlebih dahulu jumlahnya diperkecil menggunakan metode dan alat yang telah
ditetapkan sehingga diperoleh ukuran jumlah benih yang sesuai dengan aturan atau
disebut contoh benih kerja yang kemudian di uji kemurniaannya.
Pengujian benih
bertujuan untuk mengetahui kualitas benih. Penentuan kualitas benih dapat
ditentukan berdasarkan kemurnian benih. Pengujian kemurnian benih dikelompokan
menjadi tiga komponen yaitu benih murni, kotoran benih, jenis tanaman lain yang
semuanya dipersentasekan kedalam setiap komponen berdasarkan berat. Benih yang
dikategorikan murni adalah benih yang sesuai dengan pernyataan pengirim atau
secara dominan ditemukan didalam contoh benih termasuk semua benih varietas
tanaman dan kultivar dari spesies tersebut (Ilyas, 2015).
1.2
Tujuan
Praktikum
ini bertujuan untuk mengidentifikasi
berbagai spesies benih dan kotoran benih dalam contoh benih, melalui uji
kemurnian.
II.
BAHAN
DAN METODE
2.1 Tempat dan Waktu Praktikum
Praktikum
pengambilan contoh benih dilaksanakan pada Tanggal 23 Februari 2016 di
Laboratorium Penyimpanan dan Pengujian Kualitas Benih Departemen Agronomi dan
Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
2.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang
digunakan dalam pratikum ini adalah sebagai berikut:
- Benih Padi (Oryza sativa)
- Timbangan Digital
- Meja kemurnian
- Mangkuk kecil
- Pinset
- Alat
tulis
2.3
Metode Pelaksanaan
Langkah dalam
pelaksanaan dalam praktikum ini adalah benih yang telah disediakan dimana benih
diambil dari hasil contoh kerja ditebarkan diatas meja kemurnian yang kemudian
diperiksa butir per butir dengan menggunakan pinset lalu dipisahkan dalam tiga
bagian diantaranya kotoran benih (benih hampa dan kotoran lainnya) dan benih
lain, setelah itu benih yang dinyatakan murni ditimbang dengan timbangan
digital yang kemudian dianalisis berdasarkan persentase kemurnian. Perhitungan
persentase benih murni, benih tanaman lain, kotoran benih dan faktor kehilangan
dapat dihitung menggunakan persamaan berikut:
BM =
|
BM
|
x 100%
|
BM : Benih Murni
|
|||
BM
|
BTL
|
KB
|
||||
BTL =
|
BTL
|
x 100%
|
BTL : Benih Tanaman
Lain
|
|||
BM
|
BTL
|
KB
|
||||
KB =
|
KB
|
x 100%
|
KB : Kotoran Benih
|
|||
BM
|
BTL
|
KB
|
||||
FK =
|
CK - ( BM + BTL +
KB )
|
x 100%
|
FK : Faktor Kehilangan
|
|
CK
|
III. HASIL
DAN PEMBAHASAN
3.1 Uji Kemurnian
Uji
kemurnian dilakukan dari contoh kerja yang diambil dari contoh kirim. Contoh
kerja benih padi yang telah didapatkan kemudian ditimbang sebagai bobot awal.
Benih padi disebar di meja kemurnian yang telah dipersiapkan terlebih dahulu,
selanjutnya masin-masing benih yang telah disebar di atas meja kemurnian
diamati dan diklasifikasikan kedalam tiga kelompok yaitu benih murni, benih
tanaman lain, dan kotoran benih. Benih kemudian diidentifikasi secara
individual. Masing-masing komponen kemudian ditimbang lalu bobot benih dicatat
menggunakan angka desimal sesuai dengan berat dari contoh kerja. Jumlah dari
bobot seluruh komponen digunakan sebagai bobot akhir. Faktor kehilangan dari
bobot akhir diperiksa, apabila selisih faktor kehilangan tersebut lebih besar
dari 5% maka pengujian kemurnian benih harus diulang.
|
|
||
| Benih Tanaman Lain |
Materi Innert
|
Benih Murni
|
Persentase dari
masing-masing komponen kemudian dihitung dengan menggunakan angka 1 desimal.
Persentase dari ketiga komponen yaitu benih murni, benih tanaman lain dan
kotoran benih dijumlahkan. Apabila penjumlahan keseluruhan tidak 100% maka
harus dilakukan pengurangan pada persentase tertinggi atau penambahan pada
persentase terendah.
Kemurnian suatu benih merupakan presentase berdasarkan
berat benih murni yang terdapat dalam suatu contoh benih (Sutopo 1984). Sebelum
dilakukan pengujian kemurnian benih, contoh kirim yang diterima laboratorium
perlu dilakukan pengurangan benih dengan alat sample divider untuk
diperoleh contoh kerja. Contoh kerja dari masing-masing komoditas berbeda dan
besarnya telah ditentukan berdasarkan standar ISTA 2014. Berdasarkan standar
tersebut, pada pratikum ini contoh kerja atau berat awal benih padi yang
digunakan untuk uji kemurnian dari 4 ulangan dirata-ratakan sebesar 71,92 gram.
3.2 Hasil
Berdasarkan
hasil analisis kemurnian yang teak dilaksanakan diperoleh Hasil
praktikum pada tabel dibawah ini
menunjukkan mutu benih yang baik dengan rata-rata persentase kemurnian benih
padi sebesar 98,92%.
Hasil Pengujian
Kemurnian Benih Padi (Oryza sativa L.)
|
|||||||||
Kelompok
|
Bobot
|
BT
|
%
|
FK
|
|||||
BA
|
BM
|
KB
|
BTL
|
BM
|
KB
|
BTL
|
|||
I
|
71,60
|
70,20
|
1,10
|
0,10
|
71,30
|
98,32
|
0,0154
|
0,1401
|
0,279
|
II
|
71,28
|
70,90
|
0,80
|
0,07
|
71,70
|
98,79
|
0,0111
|
0,0975
|
-0,69
|
III
|
74,84
|
74,26
|
0,32
|
0,08
|
74,58
|
99,46
|
0,0043
|
0,1072
|
0,241
|
IV
|
69,99
|
69,11
|
0,55
|
0,06
|
69,66
|
99,13
|
0,0079
|
0,0861
|
0,386
|
71,928
|
71,118
|
0,693
|
0,078
|
71,81
|
98,92
|
0,0097
|
0,1077
|
0,55
|
|
Keterangan:
BA =
Bobot Awal Benih;
BM =
Benih Murni;
KB =
Kotoran Benih;
BTL = Benih
Tanaman Lain;
BT = Bobot Total Benih;
FK =
Faktor Kehilangan.
Persentase pada tabel tersebut diatas menunjukkan bahwa
kemurnian benih tinggi yang artinya penanganan benih pada saat di lapang tepat
karena persentase varietas lain maupun dengan kotoran benih sedikit. Adanya
selisih yang tidak lazim pada table faktor kehilangan diatas pada benih
padi ulangan 2
yang menunjukkan nilai negatif (-0,6
gram) hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor: adanya benih/kotoran
yang tertinggal pada laci meja
kemurnian sehingga waktu penimbangan, benih/kotoran tersebut ikut terbawa. Namun hasil dari
pratikum ini masih masuk dalam nilai toleransi. Menurut ISTA 2014, kehilangan
bobot saat pengujian tidak boleh lebih dari 5% bobot awal sebelum pengujian.
Apabila faktor kehilangan yang diperoleh setelah pengujian melebihi standar
yang telah ditentukan maka perlu dilakukan pengujian ulang. Berdasarkan hasil pengujian
dalam praktikum ini diperoleh rata-rata faktor kehilangan sebesar 0.5 %.
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan Hasil
diatas dapat disimpulkan bahwa, uji kemurnian merupkan standar pengujian dalam
menentukan mutu suatu benih berdasarkan standar Internasional ISTA. Tidak hanya
itu, penentuan kemurnian juga menentukan kondisi benih pada saat berada dilapang.
Daftar Pustaka
Ilyas. S, 2015. Teknik dan prosedur pengujian mutu benih
tanaman pangan. Institut Pertanian Bogor. Penerbit: IPB Press.
ISTA-APSA-Danida Workshop on Sampling, Purity,
Germination and Accreditation. 2003. Hannoi. Vietnam.
ISTA 2014. International
Rules for Seed Testing. ISTA. Switzerland.
Ricki B. 2011, Pengujian Kemurnian
Benih, http://rikiaishya.blogspot.com/diakses pada t anggal 1 Maret 2014.
Sutopo.
1984. Teknologi Benih. Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Malang.
Penerbit: PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

No comments:
Post a Comment